Ngeri juga ya benturan rakyat dan nakes ini. Padahal akarnya sama kayak yang lain : Duitnya BPJS kurang. Nah Nakes di sini kejepit. Pengguna BPJS minta pelayanan yang sama. Tapi nyairin BPJS itu makin sulit karena duitnya dikit. Jadi bisa aja ada kasus yang gak mau diganti https://t.co/BszoyDKpP0
Layanan BPJS buruk
Pasien BPJS mengeluhkan sistem yang bermasalah, birokrasi ribet, dan perilaku tenaga kesehatan yang buruk.
Supporting data
Outside numbers, not from this stream.Akses hampir universal — keluhan kesehatan kini soal kualitas dan antrean, bukan cakupan.
No Opportunity for this cluster yet.
Original posts
Straight from the source, unedited.23 postsAkar masalahnya JKN nya.. Tolong fokus ke masalah JKN nya juga.. Hujatan nakes (diluar dari pribadinya), waktu tunggu yang tidak masuk akal, pelayanan yang sangat singkat saat konsul, semua nya adalah gejala dari kurang baiknya sistem asuransi universal yang disediakan negara... Tolong fokus juga ke situ.. Jangan sampe para nakes yang sudah lelah dieksploitasi ini,, para pasien dan keluarga yang sudah kesusahan ini, hanya sibuk berantem sementara pembuat sistem cuma mengeluarkan statement prihatin dan pura-puta tidak tau..😢
Buat para nakes. contohlah para guru yang berserikat di legal action ngelawan mbg. Masa gaji lebih gede gabisa nyontoh guru yg gajinya lebih kecil. Padahal ada IDI, tinggal ngerangkul nakes non dokter plus ngajak masyarakat membersamai, padahal tiap tahun masyarakat banyak yg bantu bersuara buat kesehatan dan pendidikan.
Izin berbagi cerita sedikit, bang. 😁 Gue juga punya pengalaman tak bagus juga mengenai nakes Indonesia, bang. Ibu gua kritis karena berobat di salah satu RS di Indonesia. Karena terus memburuk, akhirnya dilarikan ke Malaysia. Waktu sampai di Malaysia, mereka langsung tahu kesimpulannya: akibat efek samping obat yang diberikan dokter di Indonesia, ia dirawat inap dan di ICU sampai sekitar 3 bulan. Puji Tuhan, sudah sehat. Jadi sekarang orang tua gua kondisinya sudah normal, tapi bergantung pada obat seumur hidup. Selama ini masih rutin beli obat dan kontrol di Malaysia. Sewaktu-waktu kan kita mikir, Bang, bila suatu saat dunia krisis, kita harus bisa cari obat lokal dan dikontrol sama tenaga medis di Indonesia. Nah, kita coba lah konsul sama dokter di Indo lagi kan. Tapi lucunya, Bang, dokter-dokternya pada "defensif", membela nakes di Indo sewaktu kita ceritakan kronologisnya. Dibilang salah kami karena pakai BPJS lah, terus seakan-akan disalahkan karena menjadi pasien yang sial kena efek samping lah, penyakit itu kalau mau berobat ke seluruh Indonesia, obatnya tetap sama lah, dll. Harusnya gini loh, Bang, waktu dites darah di Indonesia sebenarnya sudah jelas kalau nakes "tak paham" pasien itu kena dampak efek samping dari obat yang sebelumnya mereka berikan. Kita pernah tanya sama nakes di RS itu, obatnya diterusin gk? Mereka menjawab diterusin. Kita, karena orang awam, ya konsumsi terus tu obat sampai kondisi terus memburuk (kritis). Dari situ saja kan sebenarnya sudah kelihatan kesalahan nakes di Indonesia yang memberikan obat tapi "tak tahu efek sampingnya" kan. Lalu hubungannya dengan BPJS apa? Kan kalau mau pasien BPJS atau Mandiri, "prosedur yang benarnya", bila pasien kena efek samping obat entah dalam bentuk alergi ataupun yang membahayakan jiwa, maka obat tersebut wajarnya distop, kan, Bang? Lalu dicarikan alternatif lain kalau mereka juga paham. Mengenai obatnya akan sama di seluruh Indonesia. Kita juga ada research pribadi kok. Ada beberapa macam obat dan terapi alternatif yang bisa ditempuh di Indonesia. Dari situ kita ambil kesimpulan kalau mereka sedang defensif terhadap nakes lain tanpa logika yang tepat aja, Bang. Btw, itu kita konsulnya di RS dan dokter yang berbeda loh dari kejadian awal penyebab kritis. Karena kita sudah trauma, kan. Hebatnya, meskipun ke tempat yang berbeda-beda, bisa mirip pattern defensifnya waktu kita jelasin, Bang. Yang sedihnya, kita lagi, Bang, seakan kita dihujat sama nakes di Indonesia, sedangkan di Malaysia itu kita dipuji dokter di sana sebagai pasien yang taat pada anjuran medis. Kita bahkan banyak mendapat pertolongan dari berbagai macam dokter dan tenaga nakes di sana. Secara situasi mendadak, kita shock tidak tahu kalau bakal sampai kritis, sehingga harus ada dana yang luar biasa besar tanpa ada persiapan sama sekali. Kita juga bukan warga negara Malaysia, Bang. Mana ada jaminan sosial kita di sana. Kita bukan kenalan, teman, sahabat, kerabat ataupun keluarga dr nakes di Malaysia. Tapi dibantu agar Ibunda tetap mendapat perawatan sampai sembuh dengan dicarikan solusi cost seminimal mungkin. Ada yang membantu dengan tenaga, ada yang menjaminkan biaya obat yang mahal dan bahkan ada yang menyumbangkan biaya. !!!!! Disclaimer dikit buat yang baca, Bang. Itu mungkin kita jadi orang yang beruntung saja saat di Malaysia karena jumpa dengan orang yang tepat, dan mungkin gak semua RS serta nakes di sana seperti itu juga, kan. Takutnya ada yang habis baca ini punya ide gila ngambil risiko ke sana terus malah jadi wafat kan karena kurang beruntung. 🙂!!!!! Yah, intinya dari cerita saya itu tadi sih, Bang, kenapa sampai ada pattern defensif serupa di Nakes Indonesia? Kita pribadi sih sudah sepakat lebih memilih memaafkan daripada menuntut kesalahan nakes yang lalu-lalu, meskipun ada orang yang saranin kita tuntut nih, Bang 😅.Manusia tak ada yang sempurna, Bang. Kami pun punya kekurangan pastinya. Tapi menurut saya nih, Bang. Alangkah baiknya kalau mereka tidak defensif seperti itu; lebih baik jadikan bahan evaluasi, kan ya. Dan saya pribadi sangat mengharapkan nakes-nakes menghargai nyawa manusia, Jangan sampai ngegampangin begitu aja. 😢 Sekian dan terima kasih buat tempat curhatannya.😁
Kemarin anterin paman gw ke rs. Ceritanya dia operasi kuku krn infeksi. Singkat cerita, dicopot lah itu kuku. Dan lu tau apa yg terjadi selanjutnya? Rumah sakit minta paman gw buat rawat inap selama 2/3 hari. Operasi kuku cok! Cabut kuku doang. Alasannya fafifu... Tp yg jelas dan ini rahasia umum, kalau rumah sakit sengaja ngakalin sistem bpjs biar duit cairnya lebih gede. Kalau cabut kuku doang kan receh tuh nah ini aji mumpung disuruh rawat inap. Ya begitulah penyelenggaraan BPJS di Indonesia. Di satu sisi membantu, tp sistemnya sumpah perlu banyak dikoreksi biar anggaran gak nguap gitu aja.
nakes itu terbiasa lihat hal-hal yang gak biasa dilihat orang biasa, kematian, kecelakaan, orang sekarat dan lain-lain... burnout gara-gara tekanan kerja yang ekstrim, gaji kecil, kurang tidur yang mungkin bikin empati mereka rusak ke orang lain, cuma ya tetep gak bisa dibenarkan buat ngomong sembarangan di sosmed, kita tuh terjebak di sistem yang bobrok harusnya lu tuh nyerang sistem bukan pasien lu sendiri
iya nakes lelah banget, ada beberapa temen gua yg nakes dan mereka capek bgt. Dari sekolah, koas, kerja, berusaha masuk program PPDS, kayak ga pernah istirahat. Yang lanjut PPDS juga dirundung dan ditekan secara emosional dan finansial. Sebenarnya banyak orang indonesia yang pinter-pinter bisa jadi dokter, tapi karena somehow (peninggalan kolonial) pendidikan dokter tuh sangat elitist, ada politik gatekeeping yang parah dan banyak pembullyian, sehingga kebanyakan (ga semua) dokter dari masyarakat kelas elit. Hasilnya jumlah dokter tidak bisa sebanyak yang dibutuhkan. Ujung2nya dokter dikit, pasien banyak, burnout. Nakes2 kecapean, ketemu social media meledak. Kalo hangout sm temen dokter, mereka selalu pegang hp bisa tiba2 ditelpon sama senior diteriak2in dimaki2 (kedengeran walau ga di loudspeaker). Gw bener2 ga kebayang bos gua ngmg kyk gitu ke bawahannya, kyknya ma resign semua dan udh spill semua di socmed lol. Cuma di lingkungan kedokteran kyk gitu udh biasa/lumrah. Makanya ga heran juga masalah dokter PPDS bund*r sering muncul. Tekanan yang mereka alami itu gak normal. Jadi bukan cuma sistem BPJS, tapi dari budaya pendidikan dan profesi kedokterannya. Thank you udah ngangkat isu ini. penting banget dibahas.
Udh mah dihantem sama sistem birokrasi yang ribet, ehh ditambah sama nakes nakesnya pada modelan begini.., mereka lupa kali ya klo threads tuh pake akun asli mereka wkwk
Cerita saya: Tengah malam merasa sakit, lalu putuskan ke IGD di sebuah rumah sakit, saya bilang pakai BPJS, nunggu hampir sejam baru diperiksa, didiagnosis "cuma maag" dan ditolak rawat inap meski sudah minta. Karena sakitnya gak ngotak, paginya saya balik lagi ke RS itu, kali ini saya bilang "pasien umum, ya", (nakes berbeda dengan yang tengah malam), langsung disuruh USG sama spesialis penyakit dalam dan ketauanlah, usus buntu dan nyaris pecah (dokter bedahnya juga bilang sendiri, untung masih sempat, telat sedikit sudah fatal)—lanjut berujung 3 minggu saya opname. Nah pas sembuh, saya sempatkan nemuin nakes IGD itu dan bilang: "Ternyata usus buntu, untung dulu saya gak percaya sama ibu. Makasih ya." Begitulah realitasnya, apakah nakes nakes yang nanganin saya pas tengah malam itu ASU? ya ASU bener lah, orang saya BPJS juga bayar, rutin, gak pernah telat. Situ kalau ada urusan perkara BPJS ya sana selesaiin sama BPJSnya langsung, jangan kami yang kena diskriminasi.
Pengalaman pribadi pas lagi mau vaksin anak gua awalnya mau pake BPJS eh dilayanin dengan sangat tidak sopan, ngomongnya ketus Dan hari praktek dokternya cuma di hari jumat, eh pas gua bilang " saya mau bayar mandiri deh" eh langsung berubah 180 derajat jd senyum, sopan Dan bilang kalau dokternya ada ready senin-sabtu, plus btw ruangan nya juga beda 180 derajat klo buat mandiri Dan asuransi swasta nyaman bgt, bagus tempatnya, bangku sofa empuk Dan banyak pas buat bpjs jelek bgt ruangannya seadanya, bangku besi trus dikit lg, panas juga klo yg di mandiri adem bgt AC nya ini realitanya guys treatment nya beda bgt
Salah satu alasan gue BENCI banget sama sistem kesehatan di Indo. Pekerjanya tereksploitasi, pasiennya sering diabaikan dan didiskriminasi (kecuali bayar mahal)... gue jadi imigran di negara orang, semua pake 'BPJS', antrian adil. Rumah sakit nyaman, tempat antrian rapi, banyak tempat duduk nyaman. Di Indo, tiap bulan ambil obat alm. Bapak dulu, ngantri ga nyaman, panas, tempat duduk/nunggu ga cukup. Padahal RS besar. Kasian sama semuanya. Pemerintah, melalui kemenkes, dan para pebisnis (pemilik dan pengelola RS swasta), ongkang-ongkang kaki, enak. Mesakke bangsaku
Gw juga trauma bang, Almarhum bokap pernah merasakan menunggu ruangan selama 12 jam di IGD padahal ruangan VIP ada yang kosong, oke gw sekeluarga pengguna BPJS kelas 1. Pada akhirnya bokap dirawat di ruangan kelas 3. Gw jujur gak tahu kalo ada aturan boleh naik kelas selama 3 hari sampai ada ruangan kelas 1 yang kosong, jujur gw gak tahu itu. Nah, di ruangan kelas 3 pun bokap gak diletakkan di ruangan, tapi di selasar tempat lalu lalang petugas kebersihan RS. Apalagi maaf, perawat kelas 3 cuek nya Nauzubillah, untuk ganti infus aja kudu sampai 3x panggil, dan brengsek nya lagi bokap disuntik sesuatu yang kita sebagai keluarga pasien menanyakan obat apa eh dijawabnya oleh mereka, "anda nakes bukan makanya gak perlu tahu obat apa yang kita suntikan". Efeknya apa, tangan bokap melepuh sampai bengkak. Jujur gw sama nyokap langsung ingin segera keluar dari tuh RS. Sejujurnya bang, kalo kami di ruangan kelas 1 atau VIP perlakuan nya bagus banget tuh RS. Sampai akhirnya kami keluar RS dan 3 hari kemudian masuk RS lagi karena bokap drop lagi karena sesak nafas efek dari RS sebelumnya. Akhirnya kami pindah ke RS milik Provinsi (sebelumnya kami di RSUD kabupaten). Pelayanannya bagus, ruangannya ternyata sekelas VIP (karena disana belum ada ruangan kelas 1 isi 2 orang), pelayanan bagus. Jika nebulizer habis atau cairan infus habis, kami ke ruangan perawat langsung di laksanakan. Nah, setelah 10 hari dirawat akhirnya bokap diperbolehkan pulang. Nah Gong nya nih bang, bokap drop lagi setelah 3 hari cek rawat jalan di RS provinsi, nah kami bawa ke IGD. Saturasi sudah dibawah 95% sampai nyentuh 80an%. Nah di IGD RS tersebut kami ditolak dengan alasan ruangan IGD penuh, sedangkan kondisi bokap kritis. Akhirnya apa, bokap meninggal dan ya gitu penanganan nya telat. Jujur gw kecewa bang, apalagi gw pakai ambulance milik Pemda dan alasan mereka, ambulance ini tidak ada kerjasama dengan RS. Melihat NAKES-NAKES ini berkata seperti itu, jujur membangkitkan rasa trauma kami ketika kehilangan almarhum bokap dengan kepahitan yang kami terima seperti itu. Kami bertanya-tanya, "apakah kami pengguna BPJS kelas 1 sepatutnya diperlakukan seperti itu? Bagaimana dengan yang menggunakan kelas 2/3 dan JKSkin? Pasti lebih menyakitkan lagi perlakuan yang mereka terima. Sorry ini curhatan gw bang. Disini gw bilang bagus ya bagus, ketika jelek ya jelek bang.
nimpalin yg lain, kalaupun CTD undang Ghost Ranger Indonesia ,, Om Ded personally harus "mengosongkan dulu gelasnya", sependek yg aku tau Grin sering menjelaskan kalau alat yg mereka pakai basicnya bukan "alat yg d khusus kan untuk hunting spirit", tapi alat itu adalah alat yg dipakai secara industri, td om Ded bilang siapa yg "membenarkan" secara wawasan om Ded luas kan udh sampe USA lah pergaulan nya ya tinggal selidiki aja tuh alat dari pabrik nya sekalian,,bener ga alat itu BS d setting sesuai kemauan si creator, gimana cara menjelaskan co-incidence kasus yg berhasil di pecahkan sama alat itu,, setuju juga sama perwujudan manipulasi otak dan indera penglihatan knp "hantu" yg ada d Indonesia khas bgt sama pocong dsb, yg d ceritain bang Dika pun persis bgni,,wujud mereka dlm bentuk photo adalah manifest energi ketakutan dr manusia itu sndri. titip tolong jangan bnyk d potong dulu KLO bang erik dan bang dika nya lagi cerita
Semuanya yg ustadz jelaskan gimana caranya berpikir dan otak berproses, bagaimana apa yg terjadi di keluarga yg terlalu ritual dan BODOK. Saya sangat tidak suka cara mereka mempraktekkan hal-hal yg terlalu di lebih-lebih kan. Padahal orang tua ku mempunyai keilmuan medis tapi tidak percaya covid 🤣
harusnya ada kantor/loket perwakilan asuransi BPJS di setiap Rumah Sakit atau Faskes yg bekerjasama dengan BPJS. untuk mengakomodir/ menegahi antara PENRIMA Layanan (pasien) Dan Pemberi Layanan (Faskes)
Kenapa RS males mau terima pasien pengguna BPJS? karena track record selama ini perusahaan BPJS paling sering menunggak bayar tagihan dari RS otomatis arus kas RS terganggu. Ini sbg tamparan juga buat pemerintah dalam mengawasi perusahaan BPJS, bs jadi ada "permainan" atau korupsi sehingga BPJS selalu menunggak bayar tagihan RS.
ngeri boosss....kita rakyat jelata bpjs bayar tapi sakit ampe meninggoy di hujat nakes klo masih hidup di palak tukang pajak 😅😅
Almarhum kakak saya ada pengalaman buruk sekali dlm penggunaan bpjs, dimana cancer sudah dlm keadaan kritis tapi masuk igd ditolak krn masih sadar, harus pulang dan daftar online dpt jadwal 2 minggu lagi, akhirnya tambah parah krn hrs dibiarkan di rumah selama 2 minggu. Akhirnya dirumah sakit pengobatan tdk maksimal dan di suruh pulang stelah rawat inap tdk ada prigress, meninggal dunia dirumah tanpa perawatan yg memadai. Bubarkan saja bpjs
BPJS bayar tetapi terjadi bottleneck dimana cairnya lama dan syaratnya mempersulit/ membatasi penanganan, semisal ada pasien bayar tanpa bpjs pasti nakes dan dokter lebih semangat karena tidak ribet
jadi sedikit intropeksi jg ke diri sendiri, kadang kita terlalu mudah marah terhadap suatu postingan. Kita perlu sebuah kontrol diri, tapi ini jg menjadi peringatan ada apa dengan sistem BPJS sampai orang 8 jam tidak ter-cover bahkan tidak tau dia itu emergency dan kenapa nakes sampai terlalu sensi, meski ini sudah kelewatan bahkan nirempatinya saat mendapat kabar beliau sudah tidak ada. "Social media made y'all way too comfortable with disrespecting people and not getting punched in the face for it" - Mike Tyson
Tergantung urgency nya sih. Kalo emang darurat 8 menit pun udah tergolong lama banget. Tapi kita sama2 tau deh diagnosis pekerja kesehatan di indo lebih banyak yang zonk 😅 berbanding lurus sama logika berpikirnya juga 😂 Sehat sehat deh kita biar bisa bertahan atau keluar dari masalah ini 😅
Kl kata adek ku yg nakes di IGD. Gimana ya kak, kita tu sering banget dapat komplain dari keluarga/pasien sendiri kok lama sekali di IGD. Pdhl kita juga pengen pasiennya CEpet2 pindah ruangan, belum lagi kalo ada pasien titipan (apanya bupati,DPR,LSM) gitu2. Akhirnya ketrigger pas liat status di medsos. Yg mungkin perasaannya sama seperti dpt komplainan langsung tapi kita ga bisa marah karena terkait SOP akhirnya meluaplah di medsos. Uda capek, doanya komplainan, bayaran BPJS keluar tiap 3-4bulan ga dibayar full ada yg pending atau gagal klaim. itupun dengan risiko pengembalian karena kdg menurut verifikator pusat BPJS kasus yg sudah dibayarkan itu ga layak bayar jadi diminta pengembalian dengan motong japel kita. Begitu wargi menurut adek saya. Meskipun saya ga memaafkan juga kata2 jahat yg dilontarkan nakes tersebut di medsos
oknum nakes yang mulutnya jahat itu gajinya kecil bang, coba aja gajinya gede pasti mulutnya manis ke pasien,