@AlyaKamila-n8e
SPOILER REVIEW GUYS ✨
Duhh sumpah yaa, bis nonton makin gregetan sama film ni, that's why aku cuma bisa kasih rate 5/10. Gimana gak kesel, filmnya tuh beneran kebanyakan product placement dari iklan myBCA sampai merchandise. ngga berasa nonton film bioskop, rasanya malah kaya lagi liat iklan layanan Pestapora biar kita buru-buru beli tiketnya sambil diingatkan biar hati-hati banyak copet nantii 😭
Pokoknya berasa kaya "Pesta Iklan" sih, tapi kalau jujur dari segi teknis, aku bisa apresiasi karna directing yg bagus dan sinematografinya stylish bgtt. aku suka teknik handheld shot zoom in/out yang kerasa raw dan organik, ditambah editing tipografi sama motion edit khas Gen Z yang lucu dan skena abiezz, tai lah!
buat adegan konser Rhoma Irama juga lucu bgt sumpah, itu bagian yg menghibur. sayang ajaa, visual yang oke ini gak dibarengi dengan kualitas akting yang rata. especially buat iqbal, lu belajar akting lagi deh yaaa, soalnya film ini bener bener cuma di carry sama aktingnya Bang Silet, Kawai Labiba, ma Kristo ajee, sedangkan sisanya terasa kureng natural dan cukup cringe.
trus masalah utamanya juga ada di arah plot yang gak jelas karna nanggung mau dibawa kemana. ini sebenarnya bahas drama persahabatan atau kemiskinan struktural? gatau deh, komedinya pun masih hit and miss di akuu. buat sound design konser yang katanya bakal megah cuma lewat bgitu aja, dan fatalnya adegan copetnya sama sekali gak menegangkan, beneran kalah tegang kalau dibanding serial Preman Pensiun WKWKWK
di film ini juga rasanya terlalu meromantisasi kriminalitas dengan memperlihatkan aksi komplotan copet yang seru dan terstruktur, sampe akhirnya kita gasadar realitas kelam kemiskinan strukturalnya malah bergeser jadi glorifikasi petualangan remaja yg mengabaikan beban moral si korban.
niat awal yg menggebu ingin mengkritik rezim atau sempitnya lapangan kerja malah berakhir antiklimaks di ending karena karakter Ijal dibuat pasrah dan tunduk lagi sama sistem dengan mencari kerja dibawah kantoran atau buruh pabrik. kok KONSISTEN????!!
dan lagii diperparah sama gimmick strategi marketing di tiap podcast/ media yang seolah-olah menggambarkan orang miskin itu harus rebel, nakal, gak sopan, gak mandi, dekil. padahal itu gak selaras dan gak relevan sama sekali sama isu sosial melawan kaum elite yang mau diangkat..
tapi overall as film debut, yaa gaheran imajinari sebenarnya selalu konsisten bikin film yang fresh, tapi eksekusi nya kadang emang agak kedodoran apalagi satu ini beneran bikin gemes sendiriii, sekian ocehan dari aku pribadi yg yapping bgtt ttg film inii 😭🤏🏼